SASTRA MELAYU KLASIK

Posted by Sugianto, S.Pd. in Jan 18, 2011, under Uncategorized

SASTRA MELAYU KLASIK

A. Mengidentifikasi karya sastra Melayu Klasik
Sebagai pedoman, berikut disajikan ciri-ciri sastra secara fisik (bentuk) dan batin (isi) yang dapat dijadikan pembeda sastra lama dan sastra baru.
Ciri-Ciri Sastra Lama
Sastra Lama (Melayu)
1. Bersifat lisan dan tulisan, bahasa sudah Bersifat lisan (dari mulut ke mulut).
2. Bersifat anonim atau tanpa nama.
3. Bersifat komunal (milik bersama).
4. Bersifat statis (relatif tidak ada karya-karya baru, hanya perubahan bentuk dari yang lama).
5. Masih mencerminkan keterikatan terhadap aturan-aturan hidup bermasyarakat secara kaku.
6. Terbitan dan cetakannya tidak berangka tahun.
7. Istana sentris, sumber cerita adalah kerajaan atau keraton dan keluarga raja.
Salah satu bentuk cerita lama atau klasik adalah hikayat, yaitu karya sastra lama Melayu yang berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifatrekaan, keagamaan, sejarah, biografi, atau gabungan sifat-sifat itu dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta. Contoh:
– Hikayat Hang Tuah
– Hikayat Perang Palembang Kerajaan atau Keraton
– Hikayat Seribu Satu Malam
B. Menentukan struktur (unsur) karya sastra Melayu Klasik
Bentuk cerita lama atau klasik adalah hikayat, dongeng, legenda, epos, silsilah, fabel, parabel, dan cerita rakyat. Unsur-unsur intrinsik karya sastra meliputi sebagai berikut.
1. Tema, yaitu pokok pikiran yang menjadi jiwa dan dasar cerita. Tema dibedakan menjadi dua, yaitu tema mayor dan tema minor.
a Tema mayor: tema yang merupakan pusat pikiran cerita.
b Tema minor: tema yang merupakan rincian atau bagian dari tema mayor yangbiasanya dapat dirumuskan dari setiap kejadian dalam cerita.
2. Alur atau plot, yaitu rangkaian peristiwa yang dibuat dan dijalin dengan teliti untuk membentuk suatu cerita dalam hubungan sebab akibat. Secara garis besar, alur dibedakan menjadi alur maju dan alur mundur.
3. Latar cerita/setting, yaitu sesuatu yang melingkupi pelaku atau kejadian-kejadian dalam cerita. Latar cerita mencakup:
a. latar waktu (siang, dahulu kala, tahun 1945, dan sebagainya);
b. latar tempat (di sekolah, di kantor, di suatu kota, di laut, dan sebagainya);
c. latar suasana/situasi (sedih, gembira, lengang, sepi, gaduh, dan sebagainya);
d. latar alat (cangkul, pulpen, televisi, tali, dan sebagainya).
4. Penokohan, yaitu penentuan dan penciptaan citra/image (biasanya berupa gambaran watak atau sifat) pelaku atau tokoh dalam cerita.
5. Sudut pandang/point of view, yaitu cara pandang pengarang dalam menceritakan suatu cerita. Ada beberapa sudut pandang.
a Diaan-author observer: pengarang menggunakan orang ketiga (dia). Pengarang seolah-olah tidak mengetahui jalan pikiran pelaku.
b Diaan-author omniscient: pengarang menggunakan orang ketiga (dia). Pengarang seolah-olah mengetahui dan mengatur jalan pikiran pelaku.
c Akuan-author participant: pengarang menggunakan orang pertama (aku).
d Campuran: pengarang menggunakan teknik campuran antara teknik a, b, dan c.
6. Gaya bahasa pengarang (style), yaitu cara pengarang untuk menggunakan bahasa dalam menyajikan pikiran dan perasaannya dalam cerita (ciri khas pengarang).
7. Amanat (message), yaitu gagasan yang mendasari cerita sekaligus pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.


1 Response

Leave a Reply